Duuuh… Bukan main bingungnya para pelayan di rumah Shera! Pesta ulang tahun Shera hampir dimulai, tapi dia malah mengurung diri di kamar. Padahal tamu-tamu undangan sudah datang. Makanan yang lezat-lezat sudah dihidangkan. Badut penghibur sudah siap beraksi. Ruangan pesta pun sudah dihias balon dan pita warna-warni.

Shera ngambek karena ayahnya tidakbisa hadir. Ayah Shera sedang bertugas ke luar kota. Sedangkan ibu Shera sudah lama tiada. Pak Kepala Pelayan berusaha membujuk Shera dengan susah payah. Akhirnya Shera bersedia keluar kamar dengan mata sembab dan basah.

Ketika pesta sudah usai, tamu-tamu sudah pulang, Shera membuka kado-kado ulang tahunnya. Kado-kado itu dibungkus sampul berwarna-warni. Ada pula yang mengikatkan pita dan bunga sebagai aksesori. Isinya bermacam-macam. Boneka, jam weker, bingkai foto,syal, dan masih banyak lagi. Tiba-tiba pandangan mata Shera terbeliak menatap sebuah kado yang dibungkus sampul sokelat lusuh. Shera membuka kado itu, isinya sebuah mantel sederhana berwarna abu-abu!

“Ih, noraknya!” desis Shera. “Jangan begitu, Shera! Kamu mesti bersyukur. Apa pun hadiah yang diberikan orang lain, terimalah dengan gembira. Kalau mereka tak bawa hadiah pun tak apa-apa. Yang penting mereka mendoakanmu dengan tulus!” nasihat Pak Kepala Pelayan.

“Huuu…mestinya mereka bawa hadiah yang lebih bagus dong!” gerutu Shera sambil melempar mantel itu. Lalu dia masuk ke kamar dengan perasaan dongkol. Ugh, Shera bertekad. Tahun depan, dia hanya mengundang teman yang bisa memberi hadiah bagus saja!

Tiba-tiba… Shera mendengar sesuatu! Dia berjalan menuju pintu dan mendorongnya sedikit. Hai…apa itu? Dari celah pintu kamarnya, Shera mengintip ke ruang tengah. Dia melihat bayangan seseorang perempuan bergaun putih keperakan. Tubuhnya terang berkilauan. Perempuan itu menghampirinya, lalu melambaikan tangan.

Jangan takut, aku Peri Ulang Tahun. Aku akan memberi hadiah pada setiap anak di hari ulang tahunnya!”

“Hadiah? Sungguh?! Waaah… Kalau begitu aku ingin Ayah pulang!” sorak Shera girang.

“Akan aku kabulkan. Tapi malam ini kita akan berjalan-jalan dulu. Ayo, ikutlah!”

Perii itu membawa Shera terbang melalui jendela. Mereka melintasi atap-atap rumah yang berjajar di bawah. Tiba-tiba sang peri membawa Shera turun. Mereka merapat ke dinding sebuah rumah kayu. Lalu mereka mengintip dua orang anak yang sedang bercakap-cakap di kamarnya.

“Hei, itu kan, Breena!” Shera mengenali wajah salah seorang anak. Breena teman sekelas Shera. Tadi sore Breena datang ke pesta ulang tahunnya. Sedangkan anak yang satu lagi adiknya.

“Ssst…” Peri Ulang Tahun memberi isyarat agar Shera tak berisik. Kemudian mereka menguping pembicaraan Breena dan adiknya.

“Kenapa Kakak berikan mantel abu-abu itu buat Kak Shera? Mantel itu kan, hadiah Ibu untuk ulang tahun Kakak?” Tanya adik Breena.

Breena tertunduk sedih, lalu menyahut, “Aku tak punya uang untuk membeli hadiah ulang tahun Shera.”

“Bukankah mantel itu sangat kakak butuhkan? Sebentar lagi musim dingin tiba. Sedangkan mantel Kakak satu-satunya kan, sudah rusak. Kancingnya sudah lepas dan banyak jahitan yang harus ditambal!”

“Tapi mantel itu barang paling bagus yang aku punya. Barang yang paling pantas kuhadiahkan untuk Shera. Lagipula Ibu sudah mengizinkannya!”

“Berarti sekarang Kakak tak punya hadiah ulang tahun dong!”

“Ah, tak apa. Hari ini aku sudah merayakan ulang tahun yang paling indah di rumah Shera. Mudah-mudahan Peri Ulang Tahun memberiku hadiah mantel sebagai gantinya.

“Hoaah… sudah malam, ayo lekas tidur!” Breena mengakhiri pembicaraan. Kemudian kedua anak itu segera naik ke ranjang tua mereka.

Shera tercekat. Rupanya mantel sederhana pemberian Breena merupakan barang terbaik yang dimilikinya. Setelah itu, sang peri mengantar Shera pulang sampai ke kamarnya.

“Selamat ulang tahun!” ucap Peri Ulang Tahun seraya terbang meninggalkan Shera.

“Tunggu!” pekik Shera. “Kau akan memberikan hadiah ulang tahun yang kuinginkan?”

“Setiap anak akan mendapatkan satu hadiah impiannya!”

“Berarti… kau juga akan memberi hadiah ulang tahun untuk Breena?”

Peri Ulang Tahun mengedipkan matanya, lalu terbang dan menghilang. Shera terdiam. Beberapa saat dia termenung, kembali terngiang percakapan Breena dan adiknya.

Hmmm… ternyata banyak anak-anak yang tak bisa merayakan ulang tahun seperti dirinya. Bahkan mereka tak bisa mendapatkan hadiah ulang tahunnya dengan mudah. Lama kelamaan Shera merasa matanya berat. Dia menguap …lalu tertidur lelap.

Cup! Terasa ciuman hangat menyentuh pipi Shera. Dia membuka matanya. Rupanya hari sudah pagi. Dan… Wow! Ayahnya duduk di sisi ranjangnya!

“Selamat ulang tahun, Sayang. Tugas Ayah sudah selesai. Karena itu Ayah bisa pulang hari ini! Oh ya, ayah bawa seseuatu untukmu!” ayah Shera memberi kado berpita. Shera segera membuka isinya. Astaga…. Sebuah mantel bulu merah jambu yang sangat indah! Shera terperangah.

“Kenapa? Kau tak suka?” tanya Ayah cemas.

Shera menggeleng. “Tidak, aku suka sekali! Terima kasih, Ayah!” Shera mencium pipi ayahnya. “Peri itu menepati janjinya!” seru Shera takjub.

“Peri?” Ayah mengernyitkan alis. Shera cuma tersenym.

“Ayah, kemarin temanku memberi mantel buat hadiah ulang tahunku. Ternyata kemarin dia juga berulang tahun. Boleh aku berikan mantel ini untuk hadiah ulang tahunnya?”

Ayah menggangguk setuju. Shera memeluk ayahnya. Shera yakin, mantel bulu merah jambu itu hadiah dari sang peri untuk ulang tahun Breena!

Sumber: “Mini Book” Bonus Bobo No. 01/XXXVI Terbit 10 April 2008


About these ads