Book Review: Prinsip Hidup Orang Miskin

Prinsip Hidup Orang Miskin

 

Judul               :      Saga no Gabai Baachan, Nenak Hebat dari Saga

Penulis            :      Yoshichi Shimada

Penerbit           :      Kansha Books (a division of Mahda Books)

Terbit              :      Cet II, Mei, 2011

Tebal               :      264 halaman

ISBN              :      978-602-97196-2-8

Harga              :      Rp 48.000,00

 

 

Hidup itu selalu menarik, daripada hanya pasrah selalu coba cari jalan!

(Tips hidup menyenangkan ala Nenek Osano.)

Kita tentu masih ingat buku berjudul Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela karya Tetsuko Kuroyanagi. Buku yang berkisah di negara Jepang ini sangat menginspirasi pembacanya. Dalam buku ini, kisah masa kecil penulisnya diramu dengan bahasa yang sederhana dan penuh peristiwa-peristiwa haru, walau kadang ada peristiwa yang bisa membuat pembaca geleng-geleng kepala karena perilaku yang dilakukan oleh sang tokoh utama.

Masih dari negara yang sama, Jepang, hadir sebuah buku yang juga dapat menginspirasi pembacanya. Buku itu ditulis oleh Yoshichi Shimada judulnya Saga no Gabai Baachan, Nenek Hebat dari Saga. Dapat dibilang kesuksesan Yoshichi Shimada dengan buku ini mengikuti keterkenalan Tetsuko Kuroyanagi. Mengapa demikian? Untuk pertama kalinya, Yoshichi Shimada memperkenalkan bukunya dengan tampil sebagai bintang tamu di acara televisi Asahi TV yang telah memiliki jam tayang sangat panjang “Tetsuko no Heya” (Kamar Tetsuko). Acara ini dipandu oleh Tetsuko Kuroyanagi, penulis buku Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela. Setelah tampil di acara ini, pesanan buku Saga no Gabai Baachan di toko-toko buku langsng membeludak.

Yoshichi Shimada yang sebenarnya bernama Akihiro Tokunaga, dalam buku tersebut mengisahkan tentang masa kecilnya tinggal bersama neneknya di kota kecil Saga. Bukan kemauan Akihiro melewati masa kecil tanpa kasih sayang dari ibunya di Saga. Semuanya berawal ketika bom atom yang jatuh di Hiroshima. Ayah Akihiro yang sejak menikah dengan ibunya tinggal di Saga, pergi ke Hiroshima pasca jatuhnya bom atom. Namun hal itu membawa malapetaka, karena ayah Akihiro kemudian jatuh sakit karena radiasi atom hingga akhirnya meninggal. Ibu Akihiro tak sanggup membesarkan Akihiro di Hiroshima, sehingga akhirnya mengirim Akihiro ke Saga untuk tinggal bersama neneknya, Nenek Osano.

Tinggal bersama Nenek Osano bukan berarti keluar dari kesulitan hidup, justru kesulitan dan kemiskinan semakin menghimpit masa kecil Akihiro. Ketika sampai di rumah Nenek Osano, Akihiro dihadapkan pada situasi rumah yang lebih tepat disebut gubuk. Tidak hanya itu, Akihiro juga diharuskan memasak sendiri nasi untuk makan, karena Nenek Osano harus berangkat bekerja pada pagi hari.

Gubuk itu sempit dengan ukuran kurang lebih dua jou tikar tatami. Di dalamnya terdapat jendela yang teramat besar, yang tampak mendominasi.

Lalu kepada diriku yang masih berdiri termangu tanpa tahu harus bagaimana, Nenek berkata, “Karena mulai besok Akihiro yang harus menanak nasi, perhatikan baik-baik.”

Setelah berkata begitu,  Nenek mulai menyalakan api dalam tungku oven. (hlm. 34)

Hari pertama bertemu dengan neneknya sudah membuatnya terpana. Hari-hari selanjutnya banyak peristiwa yang membuat Akihiro semakin terkesima sekaligus kagum pada cara neneknya menjalani hidup sebagai orang miskin di Saga. Setiap berangkat dan pulang bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah universitas di Saga, Nenek Osano selalu mengikatkan tali di pinggangnya dan pada ujung tali diikatkan magnet. Pada magnet itu tertempel paku dan sampah logam yang diperoleh dari jalan-jalan yang dilewatinya. Paku dan sampah-sampah logam yang terkumpul dapat dijual. Ini adalah salah satu kecerdikan Nenek Osano dalam menghadapi kemiskinan.

Nenek Osano memperkenalkan Akihiro pada “Supermarket”. Supermarket yang dimaksud Nenek Osano adalah sungai di dekat rumahnya yang mengalir membawa sisa-sisa bahan makanan dari pasar. Nenek Osano memasang galah di aliran sungai sehingga makanan berupa sayuran dan buah yang terbawa arus sungai akan tersangkut di galah. Dan neneknnya tinggal mengambilnya dengan mudah.

Nenek meraih sayur yang bentuknya aneh dan berkata, “Lobak yang berujung dua sekalipun, kalau dipotong-potong dan direbus, sama saja dengan yang lain. Timun yang bengkok sekalipun, bila diiris-iris dan dibumbui garam, tetap saja timun.” (hlm. 43-44)

Kemiskinan yang dialami Akihiro dan neneknya membuat Akihiro mengubur semua keinginannya. Saat Akihiro sudah masuk sekolah, dia ingin ikut latihan kendo atau judo. Namun ketika dia membicarakannya pada neneknya, nenek menolak karena latihan kendo dan judo membutuhkan biaya untuk membeli seragam. Nenek Osano menyarankan Akihiro latihan lari saja, karena latihan lari tidak membutuhkan biaya.  Akihiro tentu kecewa dengan jawaban neneknya tetapi dia melakukan apa yang dikatakan neneknya. Dan, ternyata ketika dia bersekolah di SMP, Akihiro terpilih menjadi kapten baseball di sekolah karena latihan lari usulan dari neneknya. Bahkan tanpa diduga oleh Akihiro, neneknya membelikan sepatu atletik seharga 10.000 yen karena dirinya terpilih menjadi kapten.

Kehidupan yang dijalani oleh Akihiro dan neneknya di Saga memang tidak mudah, tetapi begitu banyak hal yang membuat Akihiro merasa bangga memiliki nenek seperti neneknya itu. Sehingga Akihiro menuangkan seluruh kisah kehidupan bersama neneknya ke dalam buku ini. Tepat sekali ketika Akihiro Tokunaga atau Yoshichi Shimada memberi judul buku ini Nenek Hebat dari Saga.

Siapapun yang membaca buku ini pasti akan terinspirasi. Buku ini dapat dibaca oleh semua kalangan usia. Nilai-nilai kehidupan yang diajarkan oleh Nenek Osano patut kita jadikan teladan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan yang datang dalam kehidupan kita sehari-hari. Nenek Osano berkata: ada dua jalan buat orang miskin, miskin muram dan miskin ceria. Kita mau memilih yang mana?

Peresensi adalah Paskalina Oktavianawati, Editor dan Penulis yang tinggal di Jakarta.