Hati-hati Menulis di Media Sosial

​#day9 #menulisbebas #freewriting #paskalinamenulis #bojonegoro #mediasosial

Saat ini kita bisa mendapat informasi apa pun melalui media sosial. Tetapi kita sulit menyembunyikan diri kita dari media sosial. 

Media sosial sudah seperti buku harian yang dipublikasikan di ruang publik. Tanpa mengatakan pada siapa pun, kita mau pergi ke mana pun, tanpa disadari, kita sudah mengumumkan keberadaan kita di suatu tempat. 

Misalnya dengan hastag #stasiunpasarsenen, #rumahsakit dan ditambah map lokasi, kita sudah memberitahukan kepada semua orang di dunia tentang keberadaan kita. 

Saya pun sama, semua aktivitas saya sering diberi hastag lokasi tempat atau kegiatan saya. Teman atau sahabat yang saya kenal menjadi tahu apa saya lakukan tanpa harus bertanya pada saya.

Mudik Lebaran 2017 ini tanpa saya beri tahu kepada siapa pun, dengan saya posting #belitiketmudik tiga bulan yang lalu, kemudian menjelang berangkat saya posting dengan hastag #siapsiapmudik, semua orang menjadi tahu kegiatan saya.

Media sosial sungguh luar biasa manfaatnya, menyebarkan informasi secepat kilat. Informasi apa pun bisa dengan mudah tersebar. Oleh karenanya, kita patut waspada dalam membuat postingan di media sosial. Jangan sampai apa yang kita posting menyakiti hati pihak lain. Karena jika ada pihak yang merasa dirugikan atau tersakiti, kita bisa dipidanakan.

Media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram menjadi wadah komunikasi jarak jauh yang efektif. Namun, menjadi aneh ketika media sosial justru menjadikan sebuah keluarga tak pernah bertatap muka walau satu rumah. Komunikasi hanya terjalin dan tampak akrab di media sosial. Saya sendiri ragu, keberadaan media sosial ini sebenarnya menambah ikatan keluarga atau justru semakin menjauhkan keluarga satu sama lain.

Media sosial adalah laman atau aplikasi yang memungkinkan pengguna dapat membuat dan berbagi isi atau terlibat dalam jaringan sosial (KBBI V). Jadi, tidak ada informasi yang bisa disembunyikan dari media sosial. 

Kata dan kalimat yang kita tulisan dalam media sosial, tanpa kita sadari mencerminkan diri kita, sifat kita, dan seberapa bijak diri kita dalam menanggapi berbagai permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Ayo gunakan media sosial secara bijak!

Iklan

Rasa Tradisional, Sego Pecel hingga Kopi Hitam

​#day8 #menulisbebas #freewriting #paskalinamenulis #bojonegoro #rasatradisional #traditionaltaste #kampunghalaman

Pulang ke kampung halaman, yang paling ingin dilakukan adalah mengulang masa lalu dengan mencicipi rasa tradisional minuman dan makanannya. 

Pulang ke Bojonegoro yang paling saya rindukan adalah makan sego pecel, minum kopi asli buatan sendiri, dan sarapan serabi.

Sego pecel mengingatkan saya pada 22 tahun yang lalu, ketika simbah saya berjualan sego pecel setiap pagi. Rasa sambal pecelnya tiada duanya. Kini Simbah telah berpulang kembali pada Sang Pencipta, resep sego pecel sudah diadopsi oleh Bulik dan Budhe. Sego pecel buatan Bulik dan Budhe juga enak, cukup untuk mengobati rindu.

Kopi hitam buatan sendiri, selalu ada hingga kini. Simbah selalu membuat kopi sendiri. Kopi disangrai dengan kuali tanah, kemudian ditumbuk sendiri hingga halus. Rasa tradisional sungguh terasa jika minum kopi ini. 

Saya masih bisa mencicipinya hingga kini. Bulik masih setia membuat kopi sendiri, dan tidak tergoda dengan berbagai merek kopi yang ada. 

Pulang ke kampung halaman memang membongkar banyak cerita masa lalu. Pulang ke kampung halaman juga meninggalkan banyak kisah indah dan membahagiakan. Saya suka pulang ke kampung halaman. Tetapi saya tidak mewajibkan pulang ke kampung halaman setiap tahun, setiap 2 tahun, atau setiap Lebaran. Saya akan pulang ke kampung halaman ketika memang saya membutuhkannya untuk mengisi kekosongan masa lalu.

Kampung halaman akan selalu menjadi ingatan dan tempat hati merindukannya. 

Selamat pulang ke kampung halaman. Selamat jumpa keluarga dan sahabat lama. Jangan lupa cicip minuman dan makan kampung halamanmu. 
23 Juni 2017

#paskalinaaskalin

#sayamenulis

#penulis

Dongeng Sebelum Tidur (1)

​#day7 #menulisbebas #freewriting #paskalinamenulis #bojonegoro #dongeng #mendongeng

Sebelum tidur, saya suka mendongengkan sebuah cerita dipadu dengan nyanyian. Sebuah cerita sederhana tanpa melihat buku. Ide cerita diambil dari pengalaman sehari-hari, yang dialami oleh Kenan.

Ini contoh dongengnya.

Pada suatu malam Gajah termenung sendiri. Gajah itu tampak sedih. Apa yang terjadi dengan gajah itu ya. Kemudian datanglah Kancil, bertanya pada Gajah.

“Kenapa kamu bersedih, Gajah?” tanya Kancil.

“Aku kesepian malam ini. Sahabatku Zebra sedang pergi mengunjungi saudaranya. Sepi sekali,” jawab Gajah sedih.

“Aku ada di sini, dan lihabt… ada bintang dan bulan yang setia menemani kita.” Kancil memandang langit yang penuh bintang dan terang oleh bulan.

“Ayo kita bernyanyi,” ajak Kancil.
Bintang kecil

Di langit yang biru

Amat banyak

Menghias angkasa

Aku ingin

Terbang dan menari

Jauh tinggi

Ke tempat kau berada
“Benar, kenapa aku harus sedih. Ada bintangnya menemani kita. Aku mau bernyanyi lagi.” Gajah kini tak sedih lagi. Gajah dan kancil menyanyi lagi.
Bintang kecil

Di langit yang biru

Amat banyak

Menghias angkasa

Aku ingin

Terbang dan menari

Jauh tinggi

Ke tempat kau berada
“Aku jadi ingat lagu yang dinyanyikan ibuku,” kata Gajah dengan gembira. Gajah dan Kancil menyanyikan lagu BULAN.
Ambilkan bulan Bu

Ambilkan bulan Bu

Yang slalu bersinar di langit

Di langit bulan benderang

Cahyanya sampai ke bintang
Ambilkan bulan Bu

Untuk menemani

Tidurku yang lelap di malam gelap
Setelah menyanyikan lagu BULAN berulang kali, Gajah dan Kancil tertidur pulas.
Sebuah dongeng sederhana untuk mengantar anak tidur nyenyak. Pesan yang ingin saya sampaikan dalam dongeng itu adalah jangan merasa sendirian karena Tuhan menciptakan bintang dan bulan untuk menemani kita di malam hari. Kita juga patut bersyukur atas alam yang indah pemberian Tuhan.
22 Juni 2017

#paskalinaaskalin

#sayaseorangibu

#sayapenulis

Sebuah Kisah : Gula

#day6 #menulisbebas #freewriting #paskalinamenulis #bojonegoro

Ini kisah tentang perjalanan GULA. Gula yang manis, warnanya putih, dialah si gula pasir. Gula memiliki perjalanan berbeda-beda. Inilah kisah-kisah perjalanan si gula pasir.

Kisah pertama, gula tiba di sebuah warung. “Aku akan bermanfaat di sini. Aku akan bercampur dengan teh dan kopi sehingga membuat rasa MINUMAN TEH DAN KOPI semakin enak.”

Kisah kedua, gula tiba di sebuah rumah. Sang pemilik rumah berniat membuat kue dengan campuran gula yang lumayan banyak. “Aku akan membuat kue pemilik rumah ini seenak KUE termahal.”

Kisah ketiga, gula tiba di sebuah pasar malam.  “Aku akan membuat pasar malam semakin semarak dengan kehadiranku. Aku akan membuat ARUM MANIS yang enak sekali.”

Kisah keempat, gula tiba di sebuah rumah sederhana sekali. Di dalam rumah itu ada seorang lelaki sedang membuat gulali rambut nenek. “Aku bisa berubah wujud menjadi mirip seperti RAMBUT NENEK.”

Kisah kelima, gula tiba di depan sebuah sekolah dekat seorang penjual permen gulali. “Bersama pedagang ini, aku akan membuat PERMEN GULALI yang enak dan unik.”

Kisah gula masih panjang, Anda bisa melanjutkan kisahnya sesuai dengan manfaat yang Anda peroleh.

Kisah ini hanya sebuah kisah…….

 

21 Juni 2017

#paskalinaskalin

#sayapenulis

#konsisten

 

Menulis Buku Harian

#day5 #menulisbebas #freewriting #paskalinamenulis #bojonegoro

Masih cocokkah menulis buku harian saat ini?

Menulis buku harian, bukan berarti harus menulis di buku dan hanya dibaca oleh diri sendiri. Menulis buku harian pada masa  kini bisa dilakukan dengan cara menulis di fasilitas note telepon pintar, menulis di laptop, di blog, dan sebagainya.

Menulis buku harian atau agenda harian adalah salah satu kegiatan menulis yang selalu saya lakukan setiap hari. Saya tidak pernah melewatkan untuk menulis aktivitas yang saya lakukan setiap hari dan karena kini ada Kenan, saya selalu menulis tentang Kenan setiap hari. Sejak Kenan lahir, saya menulis semuanya tentang Kenan dan memotretnya setiap hari.

Jika saya tidak menulis tentang Kenan, rasanya seperti utang yang tak terbayar. Ketika saya kehabisan waktu, saya akan menulis di hari berikutnya.

Menulis buku harian tentang Kenan seperti suntikan semangat bagi saya. Dia benar-benar merasuki jiwa saya dan menyemangati saya menulis.

Menulis buku harian, sama dengan menulis jenis tulisan lainnya, yang harus menjadi perhatian adalah konsisten menulis. Ketika ketidakkonsistenan muncul, proses menulis menjadi hambar tak berguna dan memakan waktu.

Saya jadi ingat salah satu buku saya yang sudah terbit 7 tahun yang lalu. Judul buku itu ASYIKNYA MENULIS DIARY. Dalam buku ini dijelaskan berbagai hal tentang menulis buku harian. Di buku ini pula, dijelaskan bagaimana sebuah catatan harian bisa menjadi buku.

kover buku asyiknya menulis diary

Data buku

Judul : Asyiknya Menulis Diary

Penulis : Lea Lina (nama pena dari Paskalina)

Penerbit : Nobel Edumedia

Pembelian buku ini : WhatsApp 085697602414

Dalam buku ASYIKNYA MENULIS DIARY dijelaskan tentang macam-macam bentuk buku harian (diary). Buku harian dibedakan menjadi 3 macam, yaitu buku harian tradisional, buku harian elektronik, dan buku harian online.

Selengkapnya tentang “Menulis Buku Harian,” dapat dibaca di buku ini ASYIKNYA MENULIS DIARY!

 

20 Juni 2017

#paskalinaaskalin

#sayapenulis

Karakter Anak : Mandiri (Kemandirian)

#day4 #menulisbebas #freewriting #paskalinamenulis #bojonegoro

Pengalaman saya sebagai seorang ibu….

Mandiri adalah dalam keadaan bisa berdiri sendiri atau tidak bergantung pada orang lain (KBBI). Mandiri bisa diterapkan sejak dini melalui kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan berulang.

Hal yang sangat sederhana jika dilatihkan terus-menerus akan membuat anak menjadi mandiri. Misalnya memakai sandal sendiri, makan sendiri, membawa tas sendiri, membereskan mainan sendiri, dan sebagainya.

Kenan makan sendiri

Orangtua kadang tidak mau repot menunggu anak makan sendiri. Apa lagi ketika anak makan sendiri bisa menyebabkan sisa makanan tercecer di mana-mana, kotor, dan berantakan. Hal ini kadang membuat orangtua tidak mau direpotkan sehingga lebih memilih menyuapi anak. Walau kadang anaknya sendiri juga meminta makan sendiri, orangtua tidak memberikan, dengan alasan bikin kotor.

Padahal kerepotan orangtua adalah proses belajar anak. Anak belum paham perbuatannya membuat kotor atau berantakan. Yang ada dibenak anak adalah dia bisa melakukan sendiri, dan orangtua seharusnya membantu proses belajar anak untuk menjadi bisa.

Sering sekali saya melihat, orangtua atau pengasuh anak yang membawakan tas anak ketika pergi dan pulang sekolah. Menurut saya hal ini memutus proses kemandirian anak. Anak menjadi manja, tidak mau dan tidak peduli pada tasnya sendiri. Lama kelamaan hal ini akan terbawa terus hingga remaja.

Berikut ini beberapa kebiasaan orangtua atau orang dewasa atau pengasuh anak, yang membuat anak tidak mandiri:

  1. Menyuapi makan
  2. Memakaikan sandal/sepatu
  3. Membawakan tas saat pulang dan pergi sekolah
  4. Mengambilkan barang
  5. Melarang anak membantu
  6. Membereskan mainan anak

Enam hal di atas sering dilakukan orangtua pada anaknya atau orangtua menyuruh pengasuh anak melakukan hal itu demi anaknya. Saya sebagai orangtua kadang juga terlena untuk memudahkan segala hal demi anak. Tetapi yang saya lakukan justru membuat anak manja, tidak mandiri.

Saya ingin menanamkan kemandirian sejak dini pada anak saya. Saya memulainya dengan makan sendiri tanpa disuapi. Saya memintanya mengambil barang yang diinginkan sendiri. Saya memintanya membantu membereskan mainannya. Saya melibatkan anak saya dalam berbagai aktivitas yang saya lakukan. Hasilnya… kini anak saya bisa makan sendiri, bisa memakai sandal sendiri tanpa pernah terbalik kanan di kiri atau kiri di kanan, anak saya bisa mengambil minum sendiri, dan masih banyak lagi aktivitas yang bisa dilakukan sendiri olehnya.

Untuk sampai pada kemandiriannya, saat ini sebagai seorang Ibu saya harus sabar menghadapi kerepotan atau berantakan karena ulahnya. Saya nikmati itu dengan bahagia.

19 Juni 2017

#paskalinaaskalin

#sayapenulis

#sayaseorangibu

Penting Bagiku, Pendidikan Karakter itu

​#day3 #menulisbebas #freewriting #paskalinamenulis #bojonegoro 

Penting bagiku untuk mengajari anakku SOPAN SANTUN.

Penting bagiku untuk menyuruh anakku katakan TERIMA KASIH.

Penting juga bagiku untuk menyuruh anakku mengalah, ketika berebut mainan.

Penting bagiku untuk mengajari anakku menyapu halaman.

Penting bagiku untuk mengajari anakku peduli pada lingkungannya.
===============

Sopan santun dan ucapan terima kasih adalah bagian dari pendidikan karakter. Jangan salahkan anak ketika dia tidak sopan padamu, jangan marahi anak ketika dia tidak pernah ucapkan terima kasih. Tetapi… tanya pada diri sendiri, pernahkah mengajari anak sopan santun? Pernahkah mengajari anak cara mengucapkan terima kasih.

Pendidikan karakter tidak muncul sebagai gen bawaan keturunan. Ketika Anda sudah merasa menjadi seseorang yang berperilaku baik, belum tentu menurun pada anak Anda hingga bisa berperilaku baik. Karakter harus ditanamkan dan dicontohkan pada anak Anda. Pendidikan karakter bukan perintah. Karakter harus tertanam dari hati hingga bisa menyerap hingga seluruh sanubari. Sehingga ketika Anak dewasa karakter itu akan menjadi bagian dari hidupnya. 
18 Juni 2017

#paskalinaaskalin

#sayapenulis

Kenan dan Kereta

#day2 ​#menulisbebas #freewriting #paskalinamenulis #bojonegoro #day2 #ceritaku

Dulu dan sekarang masih sama, ternyata. Kata mereka dulu ketika saya kecil paling hobi lihat kereta lewat. Dan sekarang, anak saya pun sama, seharian ini bolak-balik ke dekat rel kereta untuk menikmati pemandangan kereta lewat dari jarak dekat.

Bukan sebuah kebiasaan bagus, saya sadari itu. Kewaspadaan harus  menjadi prioritas. Melihat kereta dari jarak dekat (kurang dari 5 meter) adalah sebuah bahaya. Harapan saya ini hanya terjadi hari ini. Besok Kenan mulai terbiasa dengan keadaan di sini, terbiasa dengan deru kereta yang lewat setiap beberapa menit sekali.

Hari kedua di Bojonegoro, dihabiskan oleh Kenan dengan Adaptasi, mengenal banyak Simbah, Om, Tante, Budhe, PakDe, Mbak, dan Mas. Kenan beradaptasi dan mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Belum ada kata ingin pulang terucap dari bibir kecilnya.

Kenan mampu bergaul dengan lingkungan baru secara cepat. Saya kagum sekali padanya. Saya tidak pernah bisa melakukan hal yang sama seperti Kenan. Melihat cara bergaulnya, saya jadi ingat pada bapak saya, Bapak Richardus Yamrewav. Siapa pun yang pernah mengenalnya pasti tahu seperti apa Bapak saya itu. Saya yakin Tuhan Yang Maha Kasih sudah menempatkan di Surga Yang Paling Indah, amin.

Kenan tumbuh menjadi sebuah pribadi yang sempurna. Kenan menyempurnakan Bunda dan Ayahnya. Kenan adalah pribadi yang unik.

Bukan menurut saya saja, yang mengatakan jika Kenan mirip Opa-nya. Beberapa orang yang ditemui Kenan di Bojonegoro mengatakan Kenan mirip Bapak saya, tingkah laku pun mirip, Puji Tuhan!! Semua kebaikan Bapak ada pada Kenan. Saya patut berbahagia dan berbangga.
17 Juni 2017

#paskalinaaskalin

#sayapenulis

​Sebuah Perjalanan: Kertajaya

#day1 #menulisbebas #freewriting #paskalinamenulis #bojonegoro

Setelah sekian lama, hari ini aku melakukan mudik Lebaran ke Bojonegoro. Ini bukan sebuah kebiasaan, demi silahturahmi keluarga, demi keinginan ibuku.
Mudik Lebaran, aku menamainya sebuah kisah PULANG.

Aku lahir di kota kecil ini. Aku menyelesaikan sekolah dasarku, kelas VI di SD Klangon 1 Bojonegoro, dan aku menyelesaikan SMP-ku di SMPN 2 Bojonegoro. Banyak kisah dan cerita selama 4 tahun aku di Bojonegoro. Tetapi kisahku belum terjalin lagi hingga saat ini. Kisahku hanya milikku sendiri.

Bojonegoro adalah kota kelahiranku, kota kelahiran ibuku dan juga adikku. Bojonegoro, kota kecil tempat aku pulang ketika aku merantau kuliah di Yogyakarta. Bojonegoro, melukis indah di ingatan dan hatiku.

Sekarang, aku pulang. Membawa serta buah cintaku. Ini kepulanganku yang kedua, setelah 2 tahun lalu, aku membawa serta buah hatiku pulang.

Anakku kini akan memiliki kisahnya sendiri tentang Bojonegoro.

16 Juni 2017

#paskalinaaskalin

#sayapenulis

Sebuah Catatan: Perjalanan Menuju Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Gerakan Literasi Nasional 2017

foto bersama
Berfoto bersama penulis buku terbilih, panitian dan pejabat berwenang dari  Badan Bahasa.

Menjadi bagian dari Gerakan Literasi Nasional (GLN) itu membanggakan buat saya. Seluruh proses yang berliku saya nikmati dengan penuh bahagia. GLN ini memperkuat alasan saya untuk kembali menjelajah rimba literasi. Ketika waktu menulis sudah mengejar saya, saya putuskan tak ada lagi title karyawan tersemat di dada saya. Saya penulis maka saya akan menjalani pilihan saya dengan bahagia.

Saya lupa, tanggal berapa saya mendapat kabar tentang sayembara penulisan bahan bacaan ini. Yang pasti, setelah itu pikiran saya tertuju pada tema buku yang mau saya tulis.

Saya akhirnya putuskan untuk mengambil tema kuliner. Dengan berbekal hasil foto dari jepretan kamera sendiri, saya menulis buku tentang jajanan tradisional. Satu bulan, kemudian waktu diperpanjang lagi, masih terasa kurang, di detik-detik terakhir akhirnya harus berjuang  mati-matian menyelesaikan dua naskah buku.

Pada  20 April 2017, saya menuju ke Kantor Badan Bahasa untuk menyerahkan dummy buku saya. (Terbayang 2 hari sebelumnya, begadang tanpa tidur hanya ditemani kopi, demi mencapai deadline.) Tanggal 21 April 2017 saya susulkan buku kedua saya untuk ikut dalam sayembara. Selanjutnya berserah pada Tuhan.

Jawaban Tuhan datang 17 Mei 2017, ada judul buku saya didaftar buku terpilih, Puji Tuhan! Tetapi proses masih berlanjut. Menurut kabar-kabar yang beredar, hadiah akan diberikan September. Yahhhh mau bagaimana lagi, aturan-aturan panitia tidak bisa dilanggar.

Pada 26 Mei 2017, ada undangan dari Badan Bahasa. Isinya, mengundang penulis buku yang terpilih untuk hadir pada acara Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Gerakan Literasi Nasional 2017 yang diselenggarakan 6 – 8 Juni 2017 di LPMP DKI Jakarta.

MENGATAK
Menulis dan mengatak

Setelah undangan muncul dipos-el, terbentuklah grup wa Penulis GLN 2017. Ada banyak polemik yang terjadi dalam percakapan di grup wa, salah satunya keharusan pengumpulan naskah dalam bentuk fail word, pdf, dan indesign. Bagi saya pribadi itu bukan mssalah, karena Indesign sudah saya kenal sejak tahun 2008. Tetapi bagi mereka para penulis, yang tidak lahir dari dunia penerbit, akan sedikit kelimpungan memenuhi keinginan panitia. Penulis harus menjadi pengatak masing-masing.

Syukur pada Tuhan acara Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Gerakan Literasi Nasional 2017 bisa berjalan dengan lancar. Walau masih ada sedikit kekecewaan karena tidak membawa pulang hadiah, saya rasa setiap penulis yang hadir dalam pertemuan itu pastilah bisa menangkap makna dan manfaat, walaupun berbeda-beda bentuknya.

GLN1.jpg
Berfoto bersama sahabat baru #room1
GLN2
Teman sekamar #ROOM1

Setelah pertemuan itu saya jadi berteman dengan KATAK (pengatak) dan tergabung dalam ROOM 1. Apa itu? Tunggu postingan saya selanjutnya.

#salamliterasi

#gerakanliterasinasional

#paskalinaaskalin

#sayapenulis

#GLN2017