Dongeng: Boby dan Momo

​”Hai kamu mengambil tanpa izin!!” seru Boby si Gajah.

“Ini milik bersama siapa pun boleh makan di sini,” sahut Momo si Monyet.

“Ini memang milik bersama. Tetapi tidak berarti kamu boleh ambil. Apa kamu lupa, kamu tidak pernah ikut kerja bakti menanam pohon buah di sini, kamu juga tidak ikut merawat pohon-pohon ini.” 

Mendengar perkataan Boby, Momo tak peduli. Pisang matang di pohon habis olehnya sendiri. Karena terlalu bersemangat makan, Momo tersedak kulit pisang. Beruntunglah masih ada Boby yang sedang menyiram pohon. 

“Buka mulutmu!!” teriak Boby.

Momo membuka mulutnya, dengan cepat Boby menyemprotkan air dari belalainya ke mulut Momo. Momo langsung meminum air itu, hingga kulit pisang yang membuatnya tersedak jadi tertelan.
Pesan:  Janganlah kamu menginginkan hasil kerja keras orang lain.
#dongeng #ceritaanak #dongengpaskalina #paskalinaaskalin

Manfaat Mendongeng Bagi Anak

​#day11 #menulisbebas #freewriting #paskalinamenulis #bojonegoro #mendongeng

Dongeng disukai oleh anak-anak. Apalagi jika orangtua yang mendongengkannya untuk anak. 

Dongeng tidak harus dibacakan sebelum tidur. Kapan pun kesempatan yang ada, orangtua bisa membacakan dongeng untuk anak. Memang, waktu yang paling tepat adalah menjelang tidur karena saat itu keadaan otak sedang santai sehingga bisa dengan mudah menerima pesan-pesan kebaikan.
Berikut ini 3 manfaat mendongeng yang bisa saya sampaikan.

(1) Anak Menjadi Lebih Dekat dengan Orangtua

Dongeng yang dibacakan orangtua kepada anaknya akan semakin mendekatkan anak dengan orangtuanya. Apalagi bagi orangtua yang bekerja. Setelah seharian bekerja sehingga tidak menemani anak, kegiatan dongeng sebelum tidur, baik dilakukan dan menyenangkan bagi anak. Meski hanya lima menit, anak sudah merasa diperhatikan. Dan keesokan harinya, anak pasti akan meminta didongengkan lagi.

Kedekatan orangtua dan anak amatlah penting. Kedekatan ini menjadikan anak bisa terbuka pada. orangtua, anak berani bercerita pada orangtuanya. Ketika sedang mendongeng orangtua biss menyisipkan pesan moral yang bermuatan karakter positif untuk anak. Orangtua juga bisa bertanya atau meminta anak bercerita tentang pengalaman yang dialami anak.

Semakin sering dibacakan dongeng, niscaya kedekatan orangtua dan anak pasti akan semakin erat.

(2) Mengingat Lebih Lama

Mendongeng baik dilakukan sebelum tidur malam, karena ketika menjelang tidur malam, otak dalam keadaan santai. Keadaan tersebut membuat otak dapat mengingat dengan mudah dan mengingat lebih lama. Oleh karena itu, pesan-pesan moral juga biss teringat lebih lama pada diri anak kini hingga dewasa nanti.

(3) Memancing Anak Gemar Membaca

Mendengarkan dongeng itu menyenangkan. Apalagi dongeng dibacakan oleh ayah atau ibu. Namun, bagi anak yang sudah bisa membaca, akan muncul keingintahuan membaca dongeng lebih banyak karena penasaran dengan cerita yang dibacakan dari buku. Jadi, secara tidak langsung, kegiatan mendongeng cerita dari buku bisa memancing anak gemar membaca.

26 Juni 2017

#paskalinaaskalin #sayamenulis #sayapenulis

5 Tips Memilih Buku untuk Anak (usia 0-3 tahun)

5 Tips Memilih Buku untuk Anak (usia 0-3 tahun)

kenan-n-mom-pakalinaWP

Anak-anak umur 0-3 tahun tidak bisa memilih bukunya sendiri. Orangtulah yang akan memilihkan buku untuknya. Seperti apakah buku yang baik untuk anak usia 0-3 tahun? Semua buku anak atau buku bayi, baik dan bermanfaat untuk anak. Namun, manfaat tersebut ada jika orangtua mau mendampingi anak mereka untuk mengenal buku yang dibelikan untuknya.

5 tips memiilih buku untuk anak (usia 0-3 tahun)

  1. Buku bantal atau buku dengan penyajian khusus yaitu menggunakan spon yang ringan, sehingga tidak melukai anak ketika buku sedang dipegang dan terlempar ke muka anak.
  2. Buku dengan ujung atau sudut-sudutnya tumpul. Buku yang demikian tidak akan melukai anak jika ujungnya terkena kulit anak.
  3. Buku dengan foto asli atau bukan ilustrasi. Anak usia 1,5 tahun, ternyata lebih mudah mengenali gambar benda yang bentuknya sama dengan benda yang pernah dilihatnya di dunia nyata.
  4. Buku dengan tema kehidupan sehari-hari anak. Orangtua akan lebih mudah bercerita atau mendongeng pada anak dengan mengkaitkan cerita di buku dengan kehidupan sehari-hari anak.
  5. Buku dengan bentuk yang unik, misalnya ada penambahan lubang pada buku, mika tembus pandang, lembar khusus dengan media yang lembut atau kasar yang bisa disentuh anak, dan sebagainya. Adanya bagian-bagian berlubang, kasar, halus, berbulu pada lembar buku, melatih motorik anak.

 

Note: Peran ORANGTUA YANG PALING UTAMA dalam menciptakan anak-anak yang berkarakter positif. Buku, mainan, dan apapun itu, hanyalah pelengkap.

 

Saya tulis berdasarkan pengalaman mengamati anak saya yang kini berusia 17 bulan. #Askalin ASKALIN

Menulis oh Menulis

Kalau ditanya, sudah berapa buku yang ditulis, pasti saya jawab tidak tahu. Saya tidak pernah menghitung seberapa banyak saya menulis buku, seberapa banyak nama saya tercantum di buku entah sebagai penulis atau sebagai editor yang menjadi ghostwriter.

Bagi saya naskah adalah hidup, dan naskah menghidupi saya, menghidupi secara lahir dan secara batin. Jika muncul pertanyaan, apakah saya menulis karena uang. Dengan tegas saya menjawab, YA. Saya bisa menulis  karena uang, tapi saya juga bisa menulis karena saya suka, saya mencintai.

Menulis sebenarnya tidak selalu berakhir di sebuah buku atau berimbas pada munculnya UANG. Menulis juga merupakan cerita hidup dan cerita masa depan. Setiap hari saya menulis tentang anak saya, sejak dia lahir ke dunia hingga hari ini. Saya ingin menulis segala sesuatu tentangnya. Walau nanti akhir saya tidak bisa menjadikan tulisan saya ini buku, saya ingin anak saya membaca, kelak.

Itu beberapa buku saya yang saya banggakan pernah saya tulis. Benar-benar saya tulis dan bersaing dengan penulis lain di pasar buku. Askalin, itu nama pena yang saya pakai untuk buku-buku saya itu. Apalah arti sebuah nama, yang saya harapkan buku saya benar-benar menjadi bagian dari pembentukan karakter bangsa yang positif. Amin. Semoga. (Askalin Penulis)

#freewriting #menulisbebas #bebasmenulis #bukuaskalin #penulisaskalin #bukuberkarakter #paskalinaoktavianawati

 

Dongeng yang Paling Banyak Dicari

Dongeng Sang Kancil dengan Buaya menjadi cerita lama yang paling banyak digunakan orang sebagai referensi. Terbukti pengunjung blog ini banyak sekali berkunjung untuk membaca atau copypaste dongeng Sang Kancil dengan Buaya ini. Anda juga pasti pengen tahu dongeng tersebut bukan?

Yuk Mari kita sama-sama membaca dongengnya. ____________________________________________________________________

DONGENG SANG KANCIL DENGAN BUAYA

kancilPada zaman dahulu Sang Kancil merupakan binatang yang paling cerdik di dalam hutan. Banyak binatang di dalam hutan datang kepadanya untuk meminta pertolongan apabila mereka menghadapi masalah. Walaupun ia menjadi tempat tumpuan binatang-binatang di dalam hutan, tetapi ia tidak menunjukkan sikap yang sombong malah bersedia membantu kapan saja.

Suatu hari Sang Kancil berjalan-jalan di dalam hutan untuk mencari makanan. Karena makanan di sekitar kawasan kediamannya telah berkurang, Sang Kancil pergi untuk mencari di luar kawasan kediamannya. Cuaca pada hari itu, sangat panas dan terlalu lama berjalan, menyebabkan Sang Kancil kehausan. Lalu, ia berusaha mencari sungai terdekat. Setelah mengelilingi hutan akhirnya Kancil aliran sungai yang sangat jernih airnya. Tanpa membuang waktu, Sang Kancil minum sepuas-puasnya. Dinginnya air sungai itu menghilangkan rasa dahaga Sang Kancil.

crocodileKancil terus berjalan menyusuri tebing sungai. Apabila terasa capai, ia beristirahat sebentar di bawah pohon beringin yang sangat rindang. Kancil berkata di dalam hatinya “Aku mesti bersabar jika ingin mendapat makanan yang lezat-lezat.” Setelah rasa capainya hilang, Sang Kancil kembali menyusuri tebing sungai tersebut sambil memakan dedaunan kegemarannya yang terdapat di sekitarnya. Ketika tiba di satu kawasan yang agak lapang, Sang Kancil memandang kebun buah-buahan yang sedang masak ranum di seberang sungai. “Alangkah enaknya jika aku dapat menyeberangi sungai ini dan dapat menikmati buah-buahan tersebut,” pikir Sang Kancil.

Sang Kancil terus berpikir mencari akal bagaimana cara menyeberangi sungai yang sangat dalam dan deras arusnya itu. Tiba-tiba Sang Kacil memandang Sang Buaya yang sedang asyik berjemur di tebing sungai. Sudah menjadi kebiasaan buaya, apabila hari panas buaya suka berjemur untuk mendapat cahaya matahari.Tanpa berlengah-lengah lagi kancil menghampiri buaya yang sedang berjemur lalu berkata,” Hai sahabatku Sang Buaya, apa kabarmu hari ini?” Buaya yang sedang asyik menikmati cahaya matahari membuka mata dan didapati Sang Kancil yang menegurnya. “Kabar baik sahabatku, Sang Kancil.” Sambung buaya lagi, “Apakah yang menyebabkan kamu datang ke mari?”

“Aku membawa kabar gembira untukmu,” jawab Sang Kancil. Mendengar kata-kata Sang Kancil, Sang Buaya tidak sabar lagi ingin mendengar khabar yang dibawa oleh Sang Kancil, lalu berkata, “Ceritakan kepadaku apakah yang hendak engkau sampaikan?”

Kancil berkata, “Aku diperintahkan oleh Raja Sulaiman supaya menghitung jumlah buaya yang terdapat di dalam sungai ini karena Raja Sulaiman ingin memberi hadiah kepada kamu semua.” Mendengar nama Raja Sulaiman saja sudah menakuti semua binatang karena Nabi Sulaiman telah diberi kebesaran oleh Allah untuk memerintah semua makhluk di muka bumi ini. “Baiklah, kamu tunggu di sini, aku akan turun ke dasar sungai untuk memanggil semua kawanku,” kata Sang Buaya. Sementara itu, Sang Kancil sudah berangan-angan untuk menikmati buah-buahan. Tidak lama kemudian, semua buaya yang berada di dasar sungai berkumpul di tebing sungai. Sang Kancil berkata “Hai buaya sekalian, aku telah diperintahkan oleh Nabi Saulaiman supaya menghitung jumlah kamu semua karena Nabi Sulaiman akan memberi hadiah yang istimewa pada hari ini.” Kata kancil lagi, “Berbarislah kamu merentasi sungai mulai dari tebing sebelah sini sampai ke tebing sebelah sana.”

Karena perintah tersebut datangnya dari Nabi Sulaiman, semua buaya segera berbaris tanpa membantah. Kata Buaya, “Sekarang hitunglah, kami sudah bersedia.” Sang Kancil mengambil sepotong kayu yang berada di situ lalu melompat ke atas buaya yang pertama di tepi sungai dan ia mulai menghitung dengan menyebut “Satu dua tiga lekuk, jantan betina aku ketuk,” sambil mengetuk kepala buaya hingga Kancil berjaya menyeberangi sungai. Ketika sampai ditebing seberang, Kancil terus melompat ke atas tebing sungai sambil bersorak gembira dan berkata, “Hai buaya-buaya sekalian, tahukah kamu bahwa aku telah menipu kamu semua dan tidak ada hadiah yang akan diberikan oleh Nabi Sulaiman.”

Mendengar kata-kata Sang Kancil semua buaya merasa marah dan malu karena mereka telah ditipu oleh kancil. Mereka bersumpah dan tidak akan melepaskan Sang Kancil apabila bertemu pada masa akan datang. Dendam buaya tersebut terus membara hingga hari ini. Sementara itu Sang Kancil terus melompat kegembiraan dan terus meninggalkan buaya-buaya tersebut dan menghilangkan di dalam kebun buah-buahan untuk menikmati buah-buahan yang sedang masak ranum itu.

____________________________________________________________________

Anda bisa membacanya dengan meng-KLIK DI SINI

Cerita Rakyat, Cerita Klasik, dan Dongeng Tak Habis Dimakan Waktu

Bicara tentang cerita rakyat, cerita klasik, dongeng, fabel, legenda, dan mitos selalu sama pembahasannya dan ceritanya juga itu lagi, itu lagi. Mereka tak habis dimakan waktu. Mereka selalu ada sepanjang masa. Mereka selalu ada saat kita baru lahir, anak-anak, remaja, dewasa, lanjut usia, hingga tutup usia.

Negeri yang kita cintai, Indonesia, mempunyai banyak sekali cerita rakyat. Hal ini didukung dengan banyaknya suku dan budaya yang ada di Indonesia. Setiap cerita rakyat itu kadang kala dihubungkan dengan terjadi sebuah tempat atau asal usul nama tempat. Apakah itu benar? Tidak ada yang bisa memastikan kebenarannya. Cerita rakyat awalnya hanyalah cerita lisan yang diceritakan oleh ibu kepada anaknya, nenek kepada cucunya, begitu seterusnya hingga akhirnya kini cerita rakyat dapat kita baca dengan mudah, tanpa harus menunggu ibu atau nenek kita bercerita.

Bersambung 🙂

Gambar

Cerita rakyat Banten: Legenda Gunung Pinang

SEMILIR angin senja pantai teluk Banten mempermainkan rambut Dampu Awang yang tengah bersender di bawah pohon nyiur. Pandangannya menembus batas kaki langit teluk Banten. Pikirannya terbang jauh. Jauh sekali. Meninggalkan segala kepenatan hidup dan mengenyahkan kekecewaan atas ibunya. Menuju suatu dunia pribadi dimana hanya ada dirinya sendiri. Ya, hanya dirinya.

“Ibu tidak akan izinkan kamu pergi, Dampu.” Dia teringat kata-kata Ibunya tadi pagi.

“Tapi, Bu…” sergah Dampu Awang.

“Tidak! Sekali tidak, tetap tidak!” Wajah ibunya mulai memerah. “Ibu tahu, nong. Kamu pergi supaya kita tidak sengsara terus. Tapi ibu sudah cukup dengan keadaan kita seperti ini,” lanjut ibunya sambil terus menginang. Lanjutkan membaca “Cerita rakyat Banten: Legenda Gunung Pinang”

Cerita Rakyat Banten: Asal muasal Batu Kuwung

Ki Sarmin adalah seorang saudagar yang sangat kaya. Ia amat baik hati dan suka membantu. Suatu ketika, musibah menimpanya. Tiba-tiba saja kakinya lumpuh dan tidak ada yang mampu menyembuhkan. Ki Samir tabah dan sabar menghadapi hal itu. Ia banyak berdoa kepada yang Maha Kuasa supaya diberikan kesembuhan.

Pada suatu malam, seorang lelaki tua mendatangi Ki Sarmin dalam mimpi. Lelaki tua itu berkata: “Kalau ingin penyakitmu sembuh, pergilah engkau seorang diri ke kaki Gunung Karang. Temukan satu batu cekung, lalu bertapalah selama empat puluh malam diatas batu itu. Di akhir tapamu, air panas akan memancar dari batu itu. Mandilah engkau dengan air itu pun akan sembuh.” Lanjutkan membaca “Cerita Rakyat Banten: Asal muasal Batu Kuwung”

Cerita Rakyat Maluku: Asal Usul Tanjung Menangis di HALMAHERA

Dahulu kala terdapat kerajaan besar di Pulau Halmahera. Rajanya belum lama meninggal dunia. Ia meninggalkan dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Mereka bernama Baginda Arif, Putra Baginda Binaut, dan Putri Baginda Nuri. Putra Baginda Binaut sangat menginginkan kedudukan sebagai raja untuk menggantikan ayahnya. Keinginan itu disampaikan kepada patih kerajaan. “Aku harus menggantikan kedudukan ayahku.” Kata Binaut kepada sang Patih dengan penuh keyakinan.

Agar sang Patih ikut mendukung rencana tersebut, maka Binaut memberi janji bahwa jabatan sang Patih akan tetap dipertahankan, dan ia akan diberi hadiah emas berlian. Berkat bujuk rayu dan janji itulah, Sang Patih bersedia mendukung Binaut menjadi raja. Sang Patih segera mengatur para pengawal kerajaan untuk menangkap Sri Baginda Ratu, Putra Baginda Arif dan Putri Baginda Nuri. Setelah ditangkap, mereka dijebloskan di penjara bawah tanah. Lanjutkan membaca “Cerita Rakyat Maluku: Asal Usul Tanjung Menangis di HALMAHERA”