Cerita Rakyat, Cerita Klasik, dan Dongeng Tak Habis Dimakan Waktu

Bicara tentang cerita rakyat, cerita klasik, dongeng, fabel, legenda, dan mitos selalu sama pembahasannya dan ceritanya juga itu lagi, itu lagi. Mereka tak habis dimakan waktu. Mereka selalu ada sepanjang masa. Mereka selalu ada saat kita baru lahir, anak-anak, remaja, dewasa, lanjut usia, hingga tutup usia.

Negeri yang kita cintai, Indonesia, mempunyai banyak sekali cerita rakyat. Hal ini didukung dengan banyaknya suku dan budaya yang ada di Indonesia. Setiap cerita rakyat itu kadang kala dihubungkan dengan terjadi sebuah tempat atau asal usul nama tempat. Apakah itu benar? Tidak ada yang bisa memastikan kebenarannya. Cerita rakyat awalnya hanyalah cerita lisan yang diceritakan oleh ibu kepada anaknya, nenek kepada cucunya, begitu seterusnya hingga akhirnya kini cerita rakyat dapat kita baca dengan mudah, tanpa harus menunggu ibu atau nenek kita bercerita.

Bersambung 🙂

Gambar

Iklan

Classic Stories: Jack and the Beanstalk

Once upon a time, there was a boy named Jack. he lived with his mother. they had a cow, but it could not give milk anymore.

Jack’s mother said, “we have no food. go into town and sell our cow.”

So jack led their cow to town. On the way, he met an old man. The man asked, “will you sell me your cow?”

Jack said, “Yes! How much will you give me?”

The old man showed Jack five beans. “I will give you these magic beans. They will make you rich.”

Jack traded the cow for the beans. Then, he went back home.

Jack told his mother about the beans. But she was very angry. She said, “What have you done? Now, we have no cow and no money!”

Jack’s mother threw the beans out the window. “There are no such things as magic beans. These beans are useless!”

The next morning, Jack looked out his window. He could not believe his eyes! The beans had grown into a tall beanstalk!

Jack loved to climb, so he climbed the beanstalk. He climbed and climbed and climbed. Jack climbed until he came to a castle in the sky.

Jack knocked on the castle door. A tall woman let him in. Jack said, “I have come long way. I am hungry. Do you have anything to eat?” Lanjutkan membaca “Classic Stories: Jack and the Beanstalk”

KASIH IBU (HC. Andersen)

***************************

Kasih Ibu

HC. Andersen

***************************

Wali Kota berdiri di dekat jendela yang terbuka. Ia memakai kemeja licin berkanji, bros di renda kemejanya, dan mukanya dicukur sangat bersih. Ia mencukurnya sendiri. Wajahnya jadi tergores sedikit, tapi luka itu sekarang tertutup secarik kertas koran.

“Sini, Nak!” ia memanggil. Anak itu tidak lain anak si wanita tukang cuci, yang saat itu kebetulan lewat dan dengan penuh hormat melepas topinya. Paruh topinya sudah patah sehingga topi itu bisa dilipat dan dimasukan saku. Bocah yang memakai baju compang-camping tersebut berdiri diam. Pakaiannya bersih dan ditambal sangat rapi. Dengan memakai sepatu kayu yang berat, ia berdiri tegap bagai berhadapan dengan raja.

“Hebat sekali kau!” ujar Wali Kota.

“Anak yang baik! Ibumu pasti sedang mencuci baju di kali, dan minuman keras di sakumu pasti untuknya. Ibumu payah! Beberapa banyak yang kau bawa?”

“Setengah liter, Pak!” sahut anak itu, engan suara lirih dan ketakutan.

“Dan tadi pagi ia minum sebanyak itu juga?” sang wali kota melanjutkan.

“Tidak, itu kemarin, Pak!” bocah itu menjawab.

“Dua kali setengah liter berarti satu liter! Ia sama sekali tak berguna! Orang-orang kelas rendah memang payah. Bilang pada ibumu ia mestinya malu. Dan jangan sampai kalau jadi pemabuk ya. Tapi kurasa bagaimanapun kau bakal jadi pemabuk. Anak yang malang! Sekarang pergilah.”

Anak itu pun pergi. Ia terus memegang topi, dan angin meniup rambutnya yang kuning sehingga tegak di kepalanya. Ia menyusuri jalan, berbelok memasuki gang, dan berjalan menuju kali tempat ibunya berdiri di dalam air di samping papan cuci. Air kali mengalir deras karena pintu bendungannya dibuka. Kain-kain terbawa arus dan nyaris menjungkirbalikan papan cuci. Si tukang cuci terpaksa berpegangan kuat-kuat.

“Tenagaku hampir habis!” serunya. “Untung saja kau datang, aku butuh penyegar. Dingin sekali di dalam air. Aku sudah enam jam berdiri di tempat ini. Ada yang kau bawa untukku?”

Si bocah menyeluarkan botol dan ibunya menempelkannya di bibir lalu meneguk isinya. “Oh, enak sekali! Badanku jadi hangat! Rasanya seenak makanan panas, dan harganya lebih murah. Minum, anakku! Kau tampak begitu pucat, kau mungkin kedinginan, cuman mengenakan pakaiaan tipis seperti itu! Padahal sekarang musim gugur. Oh, dinginnya air ini! Semoga aku tidak sakit. Tidak akan. Biar aku minum lagi, dan kau juga, tapi sedikit saja, kau tidak boleh membiasakan diri minum, anakku yang malang.” Lanjutkan membaca “KASIH IBU (HC. Andersen)”

CEMARA YANG PONGAH, HC ANDERSEN

Cemara yang Pongah

Karya HC Andersen

Di hutan yang sangat subur, tumbuhlah sebatang pohon cemara kecil. Di sekelilingnya juga tumbuh pohon pinus dan pohon cemara lainnya. Cemara Kecil banyak terkena cahaya matahari dan udara segar.

Cemara Kecil memiliki semangat hidup yang sangat besar. Ia selalu berkhayal menjadi Cemara yang besar dan tinggi. Ia terlalu sibuk dengan khayalannya, dan tak peduli dengan sekelilingnya. Ia tak peduli akan hangatnya cahaya matahari dan udara segar. Ia juga tak mempedulikan anak-anak yang bermain di dekatnya. Anak-anak itu sering mengaguminya.

“Lihat! Cemara Kecil ini cantik sekali, ya!” Tapi, Cemara Kecil itu tak suka mendengarnya.

“Oh, andai saja aku besar seperti yang lain!” keluh Cemara Kecil. “Aku akan merentangkan cabang-cabangku. Dengan puncakku, aku dapat memandang alam bebas. Burung-burung akan bersarang di cabangku. Aku akan mengangguk-angguk lembut saat angin berhembus.”

Cemara Kecil selalu merasa tak bahagia. Ia tak dapat menikmati sinar cahaya matahari. Ia juga tak mendengar kicauan burung-burung yang menghiburnya. Kelembutan awan yang menyelimutinya pada pagi dan siang hari tak dirasakannya.

Sekarang musim dingin tiba. Salju mulai bertebaran. Kelinci-kelinci sering melompati Cemara Kecil. Oh, menjengkelkan cekali!

Tak terasa dua musim dingin berlalu. Menjelang musim dingin ketiga, Cemara Kecil mulai tinggi. Sekarang ia menjadi Cemara Muda.

“Asyik, sekarang aku tumbuh tinggi,” pikirnya senang.

Cemara Muda bergidik ketika melihat Cemara tertinggi dirobohkan. Ya, setiap musim gugur, penembang kayu selalu merobohkan beberapa pohon cemara yang tinggi. Cabang-cabangnya dipangkas dan diangkut dengan gerobak.

“Apa yang terjadi pada mereka, ya? Dibawa ke mana mereka?” Cemara Muda jadi penasaran.

Saat musim semi tiba, Burung Layang-layang dan Bangau terbang dan hinggap di dekap Cemara Muda. Cemara itu bertanya, “Apa yang terjadi dengan cemara-cemara yang dirobohkan itu?”

“Wah, aku tak tahu,” jawab Bangau. “Tapi, ketika aku terbang dari Mesir, aku melihat banyak kapal baru. Di kapal itu ada tiang besar yang terbuat dari pinus. Mereka titip salam untukmu.” Lanjutkan membaca “CEMARA YANG PONGAH, HC ANDERSEN”

HC Andersen

Hans Christian Andersen (lahir di Odense, Denmark bagian selatan, 2 April 1805 – meninggal di Rolighed dekat Kopenhagen, Denmark, 4 Agustus 1875 pada umur 70 tahun) adalah seorang penulis dan penyair berkebangsaan Denmark yang paling terkenal berkat karya dongengnya.

Kehidupan masa kecilnya

Andersen lahir di kawasan kumuh kota Odense, Denmark bagian selatan, pada 2 April 1805. Ayahnya, Hans Andersen adalah seorang pembuat sepatu yang miskin dan buta huruf yang merasa dirinya masih keturunan bangsawan. Sedangkan ibunya Anne Marie Andersdatter, bekerja sebagai buruh cuci.

Walau besar dalam lingkungan yang miskin, sejak kecil Hans Christian Andersen sudah mengenal berbagai cerita dongeng. Ia juga akrab dengan pertunjukkan sandiwara. Kendati tak mengenal bangku sekolah dan percaya takhayul, sang ibunya yang membuat H.C Andersen berkenalan dengan certa-cerita Rakyat.

Di kemudian hari, H.C. Andersen sempat melukiskan sosok sang Ibu dalam berbagai novelnya, misalnya dari cerita yang berjudul Hun Duede Ikke. Sayang Ibunya belakangan terjebak menjadi seorang pemabuk berat sebelum wafat pada 1833 di sebuah panti jompo. Lanjutkan membaca “HC Andersen”

Dongeng: Putri yang Sempurna (HC Andersen)

Putri yang Sempurna

Hans Christian Andersen

Putri dan dua puluh kasur

Dahulu kala, ada seorang pangeran yang menginginkan seorang Putri Raja, tetapi Putri tersebut haruslah sempurna. Dia kemudian melakukan perjalanan mengelilingin dunia hanya untuk mencari putri tersebut, tetapi dia selalu menemukan bahwa ada sesuatu yang tidak sempurna pada setiap Putri Raja yang ditemuinya. Dia menemukan banyak Putri Raja, tapi tak ada yang benar-benar dianggap sempurna oleh Pangeran itu. Dengan putus asa akhirnya dia pulang kembali ke istananya dan merasa sangat sedih karena tidak menemukan apa yang dicarinya.

Suatu malam, terjadi hujan badai yang sangat keras; dimana kilat dan guntur beserta hujan turun dengan deras sekali; malam itu sungguh menakutkan.

Ditengah-tengah badai tiba-tiba seseorang mengetuk pintu istana, dan ayah Pangeran yang menjadi Raja waktu itu, sendiri keluar membuka pintu untuk tamu tersebut.

Seorang Putri yang sangat cantik berdiri di luar pintu, kedinginan dan basah kuyup karena badai pada malam itu. Air mengalir dari rambut dan pakaiannya yang masih basah; mengalir turun ke kaki dan sepatunya. Putri tersebut mengaku bahwa dia adalah Putri yang sempurna.

“Kita akan segera mengetahui apakah yang dikatakan oleh Putri tersebut benar atau tidak,” pikir sang Ratu, tetapi dia tidak berkata apa-apa. Dia masuk ke dalam kamar tidur, mengeluarkan seprei yang mengalas tempat tidur yang akan dipakai oleh sang Putri dan menaruh sebutir kacang polong di atas tempat tidur itu. Kemudian dia mengambil dua puluh kasur dan meletakkannya di atas sebutir kacang tersebut. Malam itu sang Putri tidur di atas ranjang tersebut. Di pagi hari, mereka menanyakan apakah sang Putri tidur nyenyak di malam itu.

“Oh saya sangat susah tidur!” kata sang Putri, “Saya sangat sulit untuk memejamkan mata sepanjang malam! Saya tidak tahu apa yang ada pada ranjang itu, saya merasa berbaring di atas sesuatu yang kasar, dan seluruh tubuh saya pegal-pegal dan memar di pagi ini, sungguh menakutkan!”

Raja dan Ratu langsung tahu bahwa sang Putri ini pastilah putri yang benar-benar sempurna, karena hanya putri yang sempurna dapat merasakan sebutir kacang yang ditempatkan di bawah dua puluh kasur an dilapisi dengan dua puluh selimut. Hanya putri yang benar-benar sempurna mempunyai kulit yang begitu halus.

Pangeran kemudian mengambilnya sebagai istri, dan sekarang dia telah menemukan putri yang selama ini dicarinya.