Review Buku: Seeds of Inspiration

Judul: Seeds of Inspiration Motivasi untuk Setiap Hari

Penulis: Esther Idayanti

Penerbit: Kesaint Blanc

Terbit: Desember 2016, Jakarta

seeds-of-inspiration-resensi-paskalina

Buku bisa membantu kita untuk mendapatkan inspirasi. Buku juga bisa membawa semangat untuk terus bergerak menjadi lebih baik dari hari ke hari. Saya senang membaca buku motivasi harian karena membaca buku seperti ini seperti mendapatkan suplemen yang menyemangati hidup.

Buku SEEDS OF INSPIRATION MOTIVASI UNTUK SETIAP HARI, merupakan sebuah buku motivasi yang ditulis oleh Esther Idayanti. Kover buku dibuat dalam beberapa warna. Pembaca dapat memilih kover buku sesuai warna yang diinginkan. Saya memilih kover warna hitam.

Buku motivasi ini isinya mengikuti jumlah kalender masehi 2017.  Motivasi dapat dibaca setiap hari sesuai dengan bulan dan tanggal. Kita hanya perlu waktu 1-2 menit untuk membaca 1 motivasi. Tetapi, kita bisa mendapat manfaat positif sepanjang hari dan sepanjang hidup kita.

Hari ini 22 Februari 2017, ini motivasi yang bisa kita baca dan nikmati suplemennya.

Bahagia atau berarti?

Mana yang Anda pilih, hidup bahagia atau berarti? Walaupun mirip dan ada kaitannya, tetapi bahagia berbeda dengan berarti. Dapatkah kita membedakan keduanya? Seharusnya bisa, bamun ada saat-saat tertentu keduanya saling bertentangan.

BAHAGIA adalah perasaan yang menyenangkan. Anda bahagia ketika bisa berlibur, menemukan barang yang hilang atau klub sepak bola favorit Anda menang. Anda bahagia ketika mendapatkan apa yang Anda butuhkan atau inginkan, merasa bahwa hidup ini mudah.

BERARTI adalah hidup Anda memiliki tujuan dan nilai Anda merasa berarti ketika Anda melakukan sesuatu yang mengekspresikan diri Anda, terutama hal-hal positif yang dilakukan orang lain.

seeds-of-inspiration-2-resensi-paskalina

Kadang, saat mewujudkan kehidupan yang berarti, contohnya melawan korupsi, Anda mengalami banyak tekanan dan stres sehingga mengurangi kadar kebahagiaan Anda. Tetapi, Anda rela menjalani hal-hal ini untuk mendapatkan kehidupan yang berarti.

Hal-hal sepele dan membosankan seperti mencuci piring dan membersihkan rumah bisa menjadi hal yang membahagiakan kalau kita memberi “arti”, yaitu merawat orang-orang yang kita cintai. Penderitaan pun bisa dilalui bila seseorang dapat menemukan arti di dalamnya. Jadi sebaiknya kita mengukur hidup dari segi “arti”, bukan “bahagia”.

 

Ditulis oleh Paskalina Askalin

Mengingat Kembali Berbagai Permainan Tradisional

Kover (100 Permainan)

RESENSI BUKUKU di Koran Jakarta, Rabu, 18 Des 2013

Judul Buku : 100 Permainan dan Perlombaan Rakyat
Nama Penulis : Askalin
Ilustrator : SatuDuniaIde
Penerbit : Nyo-Nyo (Imprint Penerbit Andi)
Tahun : 2013
ISBN : 978-979-29-4003-9
Tebal  : vi + 90 halaman
Harga :  Rp45.000

“Jamuran yo gegethok. Jamur opo, yo gegethok. Jamur gajih bejijih sak oro-oro. Siro badhe jamur opo” (hal 31).

Kaum tua asal di Yogyakarta dan sekitarnya mungkin masih ingat atau pernah mendengar lagu dengan syair tersebut sebagai pengiring permainan jamuran. Anak-anak sekarang mungkin tidak lagi pernah mengdengar lagu tersebut.

Pada halaman 30-31 buku 100 Permainan dan Perlombaan Rakyat ini dijelaskan mengenai permainan tradisional yang populer di Yogyakarta dan Jawa Tengah tersebut. Meski singkat, informasi yang disampaikan relatif jelas, mencakup waktu permainan, jumlah pemain, dan caranya.

Sebagaimana judulnya, buku ini mengenalkan atau tepatnya mengingatkan pembaca akan 100 jenis permainan dan perlombaan rakyat yang terdapat di Indonesia.

Angka 100 terbagi atas 50 jenis permainan tradisional dan 50 perlombaan agustusan. Kata “agustusan” merujuk pada pesta rakyat yang biasa digelar untuk memperingati HUT RI setiap 17 Agustus. Uraian permainan/perlombaan dilengkapi ilustrasi pendukung yang menggambarkan kepada pembaca bentuk permainan/perlombaan.

Ada juga permainan egrang bambu, benthik, engklek, senapan pelepah pisang. Di sini juga dijelaskan cara membuatnya. Misalnya, untuk membuat senapan dibutuhkan dua pelepah pisang dengan diameter 1,5 sentimeter dan panjang 90 sentimeter. Kemudian satu buah pelepah pisang dengan diameter 2,5 sentimeter dan panjang 50 sentimeter. Sediakan juga lidi bambu sepanjang 10 sentimeter untuk pasak dan pisau atau cutter (hal 27).

Selain jamuran, berbagai permainan lain dengan lagu adalah cingciripit, cublak-cublak suweng, dan sebagainya. Selain dalam bahasa Jawa, terdapat pula beberapa syair berbahasa Sunda dan Betawi. Contoh Cingciripit berbahasa Sunda (hal 31). Uraian lengkap 50 jenis permainan dapat ditemukan pada hal 3-48. Selain beberapa yang telah disebut, permainan yang diulas adalah congklak, yoyo, dan lain-lain.

Selanjutnya, pada halaman 48-89, pembaca dapat menemukan 50 perlombaan agustusan untuk individu dan kelompok. Adakalanya perlombaan individu bisa juga dimainkan secara kelompok seperti balap karung.

Dalam perlombaan biasanya banyak hadiah dari panitia/sponsor yang diperebutkan. Namun, dikatakan bahwa prinsipnya semua perlombaan bersifat hiburan karena cenderung seru, lucu, dan menegangkan sehingga menimbulkan tawa dan sorak-sorai penonton. Salah satu perlombaan yang relatif seru, lucu, dan menegangkan adalah “pukul bantal di air”.

Lomba pukul bantal dilakukan oleh dua peserta yang duduk berhadapan di bambu panjang sambil memegang bantal. Melalui aba-aba juri, peserta saling pukul bantal. Peserta yang jatuh ke air kalah. Tidak jarang kedua-duanya jatuh ke dalam air (hal 56).

Ada juga penjelasan mengenai peralatan, persiapan, dan tata cara perlombaan. Pada hal 50, misalnya, dijelaskan tentang lomba “pecahkan balon”. Peralatan yang dibutuhkan balon diisi air dan pemukul. Balon digantung dan dibentangkan pada dua tiang. Peserta ditutup matanya memegang pemukul berdiri di garis batas. Jarak garis batas dengan tempat balon kurang lebih 3 meter.

Kiranya buku ini berguna untuk menyosialisasikan kembali berbagai permainan tradisional yang hampir punah dan sebagai sarana menemukan inspirasi lomba bilamana pembaca berkesempatan menjadi panitia agustusan atau gathering.

Meski satu-dua permainan/perlombaan sebenarnya bukanlah asli tradisi/budaya Indonesia, sebagian besar memang biasa dimainkan rakyat. Beberapa perlombaan, seperti panjat pinang, bahkan menjadi kekhasan dalam pesta rakyat. Jadi tidak terlalu berlebihan jika pada subjudul buku ditambahkan kalimat “hanya ada di Indonesia”.

Diresensi Dwi Klarasari, lulusan Unika Soegijapranata, Semarang

INGIN MEMBELI BUKUNYA klik link berikut untuk mendapatkan diskon 20% dan diskon 15 %

www.andipublisher.com

www.bukabuku.com

 

 

Buku inspirasiku: Aku Terlahir 500 gr dan Buta

Judul Terjemahan : Aku Terlahir 500 gr dan Buta
Penulis : Miyuki Inoue
Penerjemah : Tiwuk Ikhtiari
Cetakan : Kelima, Mei 2007
Tebal : xiv+183

Suatu hari saya naik angkot menuju mes karyawan, tempat saya tinggal. Kebetulan saat itu angkot penuh sesak penumpang. Satu per satu penumpang turun di tujuannya masing-masing. Tinggal saya dan seorang penumpang di pojok yang tersisa, seorang ibu. Ups…saya tercengang. Ternyata penumpang selain saya itu, seorang buta. Saya mendengar dia bicara pada sopir, ”Bang, saya turun di Gang Delima.”

Pikiran saya menjadi melayang. Apa dia tahu kalau sopir itu benar-benar menurunkan dia di tempat tujuannya? Apa dia tahu arah menuju rumahnya? Yang lebih mengherankan saya, dia pergi sendirian saja, kok dia bisa naik angkot ini? Semua pertanyaan itu mengelilingi saya.

Tak bisa kita bayangkan betapa sulitnya hidup tanpa mata. Belum tentu kita mampu bertahan dalam kondisi seperti ibu buta yang saya lihat. Anda ingin mengetahui kisah seorang buta yang patut berbangga meski buta? Anda akan mengetahuinya dengan membaca novel kisah nyata (true story) yang ditulis Miyuki Inoeu. Aku Terlahir 500 gr dan buta, itulah judul novel yang ditulis oleh Miyuki.

Novel ini sungguh luar biasa, bagaimana tidak disebut luar biasa, Miyuki membuat novel kehidupan dirinya sendiri, mulai dari kisah kelahirannya yang menguras air mata sang ibu sampai menjadi kebanggaan karena memenangkan perlombaan mengarang tingkat nasional Jepang ketika duduk di SMP.

Dalam keadaan normal, seorang bayi harus berada di dalam kandungan selama 40 minggu, sedangkan Miyuki berada dalam kandungan ibunya hanya 20 minggu. Oleh karena itu, Miyuki harus berada dalam tabung inkubator selama 4 bulan setelah lahir ke dunia. Selama empat bulan itu tak sekali pun Miyuki kecil merasakan pelukan sang ibu.
Miyuki lahir dengan berat setengah kilogram, seperenam dari berat bayi umumnya. Saking kecilnya hingga Miyuki bisa digenggam. Kepala Miyuki sebesar telur dan jari-jari sekurus tusuk gigi. Keadaan itu membuat Miyuki kecil harus masuk dalam tabung inkubator.
**
Masa-masa sulit Miyuki selama dalam tabung inkubator menguras air mata ibunya. Ibu Miyuki dengan tegar memberi semangat pada Miyuki kecil. Sejak kelahirannya, dokter yang merawat Miyuki menvonis usia Miyuki tidak lebih dari 2 minggu. Tapi dokter bukan Tuhan. Meski sudah divonis tak akan bertahan hidup, Miyuki berhasil melewatinya, sampai akhirnya berada dalam dekapan ibu 4 bulan kemudian setelah dikeluarkan dari tabung inkubator.

Berada dalam tabung inkubator terlalu lama memiliki risiko gangguan kesehatan pada mata bayi. Risiko itu juga harus ditanggung Miyuki kecil. Miyuki kecil tidak sempat melihat dunia tempat dia berada. Miyuki mengalami kebutaan. Tabung inkubator dialiri banyak oksigen. Jika bayi terlalu lama berada dalam tabung inkubator, bayi itu bisa terkena ROP (Retinopathy of Prematurity), yaitu penyakit yang bisa membutakan bayi prematur kalau menghirup terlalu banyak oksigen.

Perjuangan hidup Miyuki semakin berat. Lahir prematur saja sudah membuatnya berbeda dari anak-anak seusianya. Ditambah dengan kebutaannya, Miyuki semakin harus bekerja keras dalam hidupnya.
Yang sangat bermakna dari novel ini adalah lika-liku perjuangan hidup Miyuki sejak dia lahir hingga menginjak remaja. Bukan hanya perjuangan untuk mendobrak kebutaannya, tetapi juga harus terus berjuang dalam kekerasan-kekerasan yang dilakukan ibunya. Bukan kekerasan fisik, melainkan lebih pada kekerasan psikis.
Ibu Miyuki sangat keras dalam mendidik Miyuki. Ibu kebanyakan akan menjaga dengan hati-hati anaknya yang buta, tetapi tidak untuk Ibu Miyuki. Ibu Miyuki akan membiarkan Miyuki merasa sakit karena terjatuh, merasakan benturan keras di kepala, dan masih banyak yang lain. Itulah cara Ibu Miyuki mendidik Miyuki menjadi manusia yang tegar dan mandiri.

Ibu Miyuki ingin anaknya tidak rendah diri meski menjadi seorang yang buta. Pernah suatu kali Miyuki terjatuh dari tangga. Ibu Miyuki bukannya menanyakan keadaan anaknya, tetapi menyalahkan anaknya, ”Salah sendiri.” Hanya itu ucapan ibu lalu pergi meninggalkanku sambil menggumam, ”Berapa kali harus jatuh sampai kamu puas, hah? Kalau kamu jatuh terus, nanti lantainya rusak.” (halaman 43).

Di satu sisi Ibu Miyuki menginginkan anaknya tegar dan mandiri. Di sisi lain dalam diri Miyuki merasa tersiksa karena perlakuan ibunya. Miyuki merasa kesal terhadap perlakuan ibu, tetapi Miyuki tidak bisa jauh dari ibunya. Miyuki sangat memerlukan ibunya.

Lembar demi lembar dalam novel ini dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam diri Miyuki tentang perlakuan-perlakuan kasar ibunya hingga Miyuki menemukan sebuah kesadaran akan kehebatan ibunya ketika membesarkannya. Miyuki dengan jujur mengutarakan perasaannya, baik itu perasaan senang ketika dekat ibu, sedih saat jauh dari ibu, maupun sakit hati pada perlakuan ibunya.

Suatu hari Miyuki ingin merasakan naik sepeda. Ibu Miyuki menyanggupi untuk mengajak Miyuki belajar naik sepeda di lapangan. Ibunya memberi tahu cara naik sepeda.
Miyuki berpikir ingin duduk di belakang saja dan ibunya menolak. Tadinya aku ingin duduk di belakang saja, di boncengan dan ibunya menuntun sepedanya. ”Kalau kamu minta duduk di belakang, kamu tidak bisa naik sepeda selamanya. Kamu harus percaya kalau kamu bisa naik sepeda. Ayo, coba lagi!” (halaman xi).

Setelah diberi tahu ibunya cara naik sepeda, Miyuki harus menaiki sepeda sendiri. Ibu Miyuki hanya duduk di kursi panjang sambil meneriaki Miyuki untuk bangun lagi saat terjatuh. Miyuki sangat kesal karena ibunya tidak menolong sekali pun. Padahal lutut dan tangan Miyuki sudah berdarah-darah dan terasa perih. Sampai empat puluh kali jatuh dari sepeda, akhirnya Miyuki bisa naik sepeda. Rasa sakit yang dialaminya dan kejengkelan pada ibunya tak lagi dirasakannya setelah berhasil naik sepeda dan merasakan embusan angin. Tentunya Miyuki hanya bisa naik sepeda di lapangan. Jika di jalan raya, itu akan membahayakan dirinya. Miyuki tahu bahwa ibunya menangis saat melihatnya belajar sepeda ketika dia menulis cerita tentang dia dan ibunya.
**

Kebutaan tak menghentikan Miyuki untuk merasakan hal-hal yang dialami anak-anak sebayanya. Itulah yang ditanamkan sejak dini oleh Ibu Miyuki. Apa pun yang diinginkan Miyuki selalu didapatkan, tetapi tentunya dengan usaha yang keras. Ibu Miyuki tidak membiasakan Miyuki untuk mendapatkan hal-hal yang instan.
Perjuangan Miyuki dan ibunya membuahkan hasil yang luar biasa. Miyuki berhasil memenangkan lomba mengarang SLB tingkat nasional Jepang. Dalam karangan-karangannya Miyuki menceritakan kisah dirinya, ibu yang selalu keras padanya, tangis dan tawa bersama ibu, dan cerita-cerita mengharukan yang didengar dari ibunya. Melalui karangan-karangan ini pula Miyuki menjadi sadar, bahwa berkat ibunya, Miyuki bisa menjalani kebutaannya. Kecintaan Miyuki pada dunia tulis-menulis ini akhirnya membuahkan novel ini.

Ketika Anda membaca novel ini Anda akan merasa seolah-oleh Miyuki bercerita pada Anda. Tutur bahasa yang sederhana membuat novel ini mudah dipahami. Hal ini tentunya juga didukung oleh sang penerjemah, Tiwuk Ikhtiari.

Novel ini baik dan layak dibaca oleh semua orang, terutama diperdengarkan pada sesama kita yang tidak diberikan mata normal. Pertama, dengan membaca novel ini wawasan Anda tentang ”kebutaan” akan menjadi lebih positif. Memang, ”kebutaan” itu membuat pemiliknya harus berusaha lebih keras dalam mendapatkan sesuatu. Miyuki, satu di antara jutaan orang yang buta, berhasil mendobrak kebutaannya dengan bantuan penuh ibunya.

Oleh karena itu, jangan menjadi lemah karena putri, putra, kakak, adik, atau orang tua Anda yang buta. Akan tetapi, doronglah dia menjadi positif dalam memandang hidup. Ingatlah perjuangan Ibu Miyuki dalam mendidik Miyuki. Dalam didikan ibunya, Miyuki menjadi seorang yang mandiri dan bangga pada dirinya.

Kedua, dalam beberapa hal, bisa jadi Anda, saya, dan Miyuki mempunyai kesamaan. Mendapat perlakuan keras dari orang tua, guru, dan lingkungan sekitar. Akan tetapi, yakinlah bahwa sebagaimana Miyuki alami, buah-buah rohani akan dirasakan dengan nikmat bila kita sampai pada kesadaran tertentu. Lebih penting lagi, sikap pantang menyerah Miyuki dan kesetiaan sang ibu membesarkan anaknya bisa menjadi inspirasi dan motivasi kita untuk terus berjuang, memperjuangkan apa yang kita inginkan.

(Paskalina Oktavianawati, S.S.)

Catatan: Resensi ini dimuat di Pikiran Rakyat, 20/08/2007

Book review: Merintis Usaha di Usia Muda

Merintis Usaha di Usia Muda

 

Judul               :      Rintis Usaha Sendiri, Yuk!
Penulis            :      Cheryl Tanuwijaya
Penerbit           :      Citta Media
Terbit              :      Juni 2011
Tebal               :      118 halaman
Harga              :      Rp 32.500,00

 

Di zaman yang serba mahal dan canggih ini, kita tidak bisa berdiam diri saja menunggu keberuntungan yang diturunkan oleh Tuhan. Kita harus terus belajar dan berusaha mengembangkan diri, mengembangkan kemampuan yang kita miliki. Salah satunya adalah kemampuan merintis usaha sendiri. Merintis usaha? Mungkin di antara kita akan berujar, memangnya mudah merintis usaha sendiri.

Merintis usaha itu ternyata mudah. Ini sudah dibuktikan oleh Cheryl Tanuwijaya. Saat Cheryl masih duduk di SMA, dia menekuni bisnis logam mulia. Wow, mungkin sebagian dari kita berdecak, tetapi inilah realita, anak SMA juga bisa berbisnis logam mulia yang harganya bisa selangit.

Berdasarkan pengalamannya menekuni bisnis logam mulia, ia menuangkan pengalamannya merintis usaha sendiri melalui buku perdananya Rintis Usaha Sendiri, Yuk!. Melalui buku ini ia ingin mengajak remaja-remaja seusianya untuk mengubah kebiasaan remaja yang hanya bisa menadahkan tangan pada orang tua untuk memenuhi uang jajan.

Kita tentu sepakat bahwa dengan banyaknya pengangguran di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan lapangan pekerjaan yang banyak. Dan, dengan adanya buku ini patut kita acungi jempol. Mengapa? Buku ini mengajak remaja untuk berubah ke arah yang lebih baik, lebih kreatif, dan lebih berani berinovasi. Remaja tidak lagi berangan-angan untuk bekerja di perusahaan A atau perusahaan B, kantor A atau kantor B. Angan-angan remaja adalah usaha apa yang bisa diciptakan untuk masa persiapan di masa depan. Hal ini akan menciptakan lapangan pekerjaan sehingga secara otomatis pengangguran dapat dikurangi.

Tugas utama seorang remaja yang masih duduk di bangku sekolah adalah belajar, demikian pula tugas remaja yang duduk di bangku kuliah. Tetapi tidak ada larangan untuk remaja berkreasi dan berinovasi menciptakan usaha, bukan? Peluang-peluang usaha yang bisa dijalani oleh remaja yang masih berstatus sekolah atau kuliah, di antaranya memanfaatkan hobi yang dimiliki oleh remaja itu sendiri. Misalnya, seorang remaja memiliki hobi membaca, secara otomatis dia pasti memiliki koleksi buku bacaan yang sangat banyak. Hobi membaca ini dapat dijadikan peluang usaha perpustakaan atau rental buku. Contoh lain hobi menggambar atau melukis. Hobi ini juga bisa dijadikan peluang usaha yang menguntungkan, seperti Andina Nabila Irvani dari hobinya melukis bisa membuat usaha sepatu lukis dengan brand bernama Spotlight.

Merintis usaha di usia muda bisa dilakukan oleh semua remaja, asalkan mereka tahu cara dan jalan yang benar. Memang ada pepatah mengatakan “Banyak jalan menuju Roma”, tetapi setiap jalan yang dipilih haruslah sesuai dan tidak salah langkah. Dalam buku Rintis Usaha Sendiri, Yuk!, Cheryl menyebutkan ada komposisi bisnis untuk merintis usaha, yaitu kemauan, kreatif, promosi, dan bersyukur pada Sang Pencipta.

Kemauan adalah hal terpenting ketika kita akan melakukan usaha. Meskipun kita memiliki kepintaran dan modal uang yang cukup, tanpa adanya kemauan, semuanya akan sia-sia belaka. Tepat apabila dikatakan “Modal bisa dicari, tetapi kemauan harus diperjuangkan”. Oleh karena itu, Cheryl menempatkan kemauan sebagai komposisi pertama dalam bisnis.

Ketika kita mulai merintis usaha sendiri, tidak selalu berakhir dengan kesuksesan, adakalanya kita harus mengalami kegagalan dan menghadapi kendala-kendala. Jangan jadikan kegagalan dan kendala itu sebagai nilai negatif, tetapi jadikan kegagalan dan kendala itu nilai positif untuk pemicu supaya kita semakin kreatif dan cerdas menyelesaikan masalah.

Buku Rintis Usaha Sendiri, Yuk! patut kita apresiasi dengan beberapa alasan. Pertama, buku ini ditulis oleh seorang remaja dan diperuntukkan dengan remaja, sehingga buku ini tidak menggurui siapa saja yang membacanya. Buku ini memberikan gambaran nyata tentang remaja dan segala lika-likunya untuk mewujudkan kemandirian diri dan kemandirian finansial. Kedua, buku ini mengajak kita semua untuk mengubah mindset, bahwa kemandirian finansial bisa dimulai sejak dini. Kita tidak perlu menunggu usia 30 tahun untuk sukses. Dimulai sekarang pun jika punya kemauan, pasti bisa kesuksesan bisa dicapai.

Peresensi adalah Paskalina Oktavianawati, Editor dan Penulis yang tinggal di Jakarta.

Book Review: Jurus Jitu Jadi Penulis Hebat

DIMUAT DI KORAN JAKARTA, Selasa, 5 April 2011

 

Judul            :    88 Kiat Menjadi Penulis Hebat
Penulis         :    Syamsa Hawa dan Irawan Senda
Penerbit       :    Tangga Pustaka
Terbit           :    2011
Tebal           :    xii + 248 halaman
Harga           :    Rp 35.000,00

Pada masa sekarang ini menjadi penulis bukan lagi sebagai pekerjaan sampingan. Penulis dapat disebut sebagai sebuah profesi. Bahkan, bagi generasi muda profesi penulis dapat dijadikan cita-cita untuk meraih sukses di masa depan.

Dulu penghasilan seorang penulis dipandang sebelah mata, tapi tidak untuk saat ini. Kita tentu mengenal nama-nama penulis top seperti Andrea Hirata yang menelurkan karya Laskar Pelangi hingga dicetak 5 juta copy dan diangkat ke layar lebar, Habiburrahman El-Shirazy melalui karya Ayat-ayat Cinta yang diangkat ke layar lebar, serta masih banyak deretan penulis yang karyanya menjadi best-seller.

Mari  kita coba-coba berhitung pendapatan seorang penulis. Dalam 1000 eksemplar buku terjual, dengan rata-rata harga 50 ribu rupiah per eksemplar, penulis bisa mendapatkan royalti senilai 5 juta rupiah. Wow, dapat dibayangkan berapa miliar royalti yang diterima oleh Andrea Hirata dengan 5 juta eksemplar yang terjual.

Dengan mengetahui penghasilan penulis yang begitu banyak, apakah Anda tertarik untuk menjadi penulis? Anda dan semua orang yang memiliki kemauan pasti bisa menjadi seperti Andrea Hirata atau seperti Habiburrahman El-Shirazy. Jangan pernah beranggapan bahwa untuk menjadi penulis itu diperlukan bakat. Keahlian menulis novel, menulis cerpen, menulis artikel, menulis nonfiksi dapat Anda pelajari dengan mudah dengan bantuan buku 88 Kiat Menjadi Penulis Hebat.

Syamsa Hawa dan Irawan Senda mempersembahkan sebuah buku yang hebat untuk Anda yang ingin bisa menulis dan ingin segera mewujudkan impian menjadi penulis terkenal. Pada bagian pertama buku ini, penulis memaparkan tentang motivasi menulis. Motivasi menulis antara orang yang satu dengan orang yang lain tidak selalu sama, banyak juga perbedaannya. Dalam buku ini penulis memaparkan berbagai hal yang bisa memotivasi seseorang untuk menulis, di antaranya menulis dapat menghasilkan uang, gara-gara menulis bisa traveling gratis, menulis bisa memperluas jenjang karier, dan sebagainya.

Penulis pemula atau penulis berpengalaman memiliki motivasi menulis sangat tinggi, namun kadang-kadang tidak sedikit penulis yang masih kebingungan tentang beberapa  hal, seperti bagaimana cara menghalau kendala menulis, mencari ide, membedakan naskah nonfiksi, fiksi, dan faksi, serta apa yang harus dilakukan setelah naskah selesai ditulis. Kebingungan tersebut sering dipertanyakan oleh penulis pemula atau penulis berpengalamanan pada saat acara jumpa penulis atau bedah buku.

Nah, siapa pun Anda, calon penulis, penulis pemula ataupun penulis berpengalaman, tak perlu lagi kebingungan, di dalam buku 88 Kiat menjadi Penulis Hebat, semua hal tentang penulisan buku hingga buku tersebut dipasarkan dibahas secara tuntas. Mungkin Anda mempertanyakan tentang apa itu endorsement, di buku ini dijelaskan. Anda bertanya tentang pemasaran buku, di buku ini dibahas juga. Buku ini membuat melihat semua orang yang buta tentang dunia tulis-menulis buku.

Buku ini mampu menginspirasi siapa saja yang membacanya. Bahasanya yang tidak berbelit-belit, memudahkan pembaca memahami setiap bagian-bagian dari buku ini. Bagi Anda yang terinpirasi menulis novel, melalui buku ini Anda dapat langsung berlatih menulis, karena disediakan lembar kerja untuk berlatih menulis. Anda ingin menjadi seperti Andrea Hirata, Habiburrahman El-Shirazy, atau Asma Nadia? Tunggu apa lagi, segera wujudkan mimpi-mimpi terbesar Anda.

 

Peresensi adalah Paskalina Oktavianawati, penikmat dan pencinta buku

Book Review: Coming Home

Judul : Coming Home

Penulis : Sefryana Khairil

Penerbit : GagasMedia

Tahun : 2011

Genre : Novel Dewasa

Tebal : x + 318 halaman

ISBN : 978-979-780-464-0

Amira dan Rayhan adalah dua tokoh sentral dalam novel ini. Amira dan Rayhan menikah, namun pada usia pernikahan yang masih seumur jagung mereka berpisah karena, Rayhan menduakan cinta Amira dengan wanita lain.

Dikhianati oleh orang yang dicintai dan orang yang telah mengucap janji setia di hadapan Tuhan, tidak mudah dilupakan begitu saja. Amira masih dapat merasakan sakit hati yang dialaminya.

Menjadi seorang guru TK membuat Amira lupa sejenak akan sakit hati yang dibuat oleh mantan suaminya. Amira menjalani dengan senang pekerjaannya dan bahagia bersama anak-anak TK yang diasuhnya. Hidupnya seakan kembali tenang.

Namun, semua berubah ketika muncul sesosok pria menggandeng seorang anak gadis mungil mendaftar di TK, tempat Amira mengajar. Dia adalah Rayhan, mantan suaminya. Kenangan-kenangan sakit hati kembali menjalari hidup Amira. Rindu dan sakit hati bercampur menjadi satu, mengoyak-ngoyak hati Amira. Muncul pertanyaan dalam hati Amira, Kenapa harus bertemu kembali dengan Rayhan? Kemana ibu gadis kecil itu? Kenapa harus Rayhan yang mengantarkannya ke sekolah?

Rayhan sendiri juga begitu kaget ketika bertemu dengan Amira, mantan istrinya. Muncul penyesalan yang dalam di hatinya, karena telah menyia-nyiakan Amira.

Apa yang akan terjadi dengan pertemuan Amira dan Rayhan? Akankah mereka merajut kembali perkawinan yang sudah putus? Membaca novel Coming Home akan menjawab semua pertanyaan itu.

Bahasa yang digunakan Sefryana Khairil dalam merajut kisah dalam novel ini begitu enak dibaca. Coba saja Anda membacanya. Membaca satu halaman akan membuat Anda ketagihan untuk membaca halaman-halaman selanjutnya.